Sabtu, 23 Maret 2013

Yuk .... mangan krupuk .. ( yuk... makan kerupuk ...)

Yuk .... mangan krupuk .. ( yuk... makan kerupuk ...)

oleh Ahmad Arifin (Catatan) pada 30 Juli 2012 pukul 18:34
Opak Sermier ( Bentuknya Seperti Piring )

         Jajanan ini selalu menghiasi, bila di kota Pare didatangi rombongan pasar malam yang ada ‘dermulennya, seperti tontonan : ombak banyu, tong edan, komedi putar, rumah hantu, jinontro (bianglala) dll. Rombongan pasar Malam ini dulu biasa di gelar di lapangan Persendo (sekarang Taman kota), lalu di pindahkan di tanah kosong di sebelah timurnya Koramil. Nama jajanan ini adalah Opak sermier, penjualnya sepasang suami istri yang sudah agak berumur, terkadang selain menjual opak sermier kakek dan nenek ini menjual ‘glali dan ‘kerupuk kotak yang dikasih sambal seperti petis.
         Bentuk opak sermier ini bulat dan agak besar, anda bisa membandingkan dengan sebuah piring, kalau digigit akan berbunyi “krak. Sementara untuk bahan kelihatannya terbuat dari ketela yang telah diiris-iris tipis dan dibentuk agak bulat besar, kemudian dikasih bumbu dan sedikit daun ‘sledri, kakek dan nenek ini berjualan agak menjauh sedikit dari tempat arena ke tempat yang agak gelap, penerangannya dengan menggunakan ‘ublik (kaleng yang diberi sumbu dan di dalamnya dikasih minyak) terkadang lampu ‘teplok  yang tidak sebegitu terang. Dulu kakek dan nenek ini jualan opaknya selalu berdampingan dengan paman yang mengadakan permainan ‘Garengan’ atau ‘othok’ permainannya dengan cara kita bertaruh memasang pada sebuah gambar yang telah disediakan, biasanya gambar tokoh pewayangan seperti : semar, gareng, petruk, lan bagong. Setelah itu gasingnya diputar bila berhenti pada sebuah gambar yang telah kita pasang maka kita akan mendapat sebuah hadiah yang telah ditentukan.

Kerupuk Romolio ‘duet bersama rujak manis

         Kerupuk yang satu ini biasanya bergandengan dengan ‘rujak manis, dan pada waktu itu diperkampungan satu ‘pincuk rujak manis cukup merogoh kecek saku cuman Rp 25,- saja. Ya……cuman Rp 25,- dan selalu di’duetkan dengan kerupuk ketela ini.
         Namanya kerupuk ‘Romolio, ketela yang telah diiris-iris menjadi bagian yang kecil itu dijemur di bawah sinar matahari, kemudian pada bagian tengahnya lalu dikasih pewarna dari bahan ‘sumbo, warna ‘sumbonya bisa merah, kuning, dan hijau tergantung dari selera pembuatnya., tetapi kebanyakan ‘berwarna merah. Sesudah ketela itu kering tinggal digoreng di sebuah wajan besar yang perapiannya masih menggunakan kayu bakar dan ‘serbuk kayu bernama ‘grajen.
         Selain duet dengan rujak manis, kerupuk romolio ini terkadang juga dijual dengan kemasan bungkusan, satu bungkus plastik juga masih Rp 25,- tetapi lama kelamaan nama ‘Romolio terlalu sulit diucapkan oleh sebagian orang, jadi untuk mempermudah dan mempercepat pelafalan, kerupuk ini lalu disebut dengan nama kerupuk ‘telo saja.




A short story's of the Bejo and Gilang

A short story's of the Bejo and Gilang

oleh Ahmad Arifin (Catatan) pada 1 Agustus 2012 pukul 19:20
“Ikut program job interview aja…., kelasnya santai …(  A short story's Bejo and Gilang  ) “


  Pagi masih berselimut kabut tipis, membasahi pucuk – pucuk daun mangga yg sesekali rontok, suara syi’iran ( puji – pujian ) dari langgar terdekat terdengar bersenandung khidmat menandakan rutinitas pagi di kampung inggris pare mulai beraktifitas. Kokok ayam jantan dan burung – burung kecil di pohon mangga mulai bertambah ramai, suara induk ayam “ kruk…” dan kicauan jernih burung prenjak “ cemplik…cemplik…” mulai mendominasi suasana di kampung itu ( seperti pasukan orc dan uruk hai pada waktu menyerang ‘ Helm’s deep di film trilogy the lord of the rings ), bejo pun mulai mempersiapkan catatan kecil dan buku ‘ vocabullary yg dibelinya kemarin malam di toko buku depan khursus’an dekat langgar, iapun mulai berfikir “ ambil program apa ya..? kemarin final test speaking , vocabullary ama pronounciation aja sebenarnya untung – untungan bisa lolos.., dilain itu aku paling susah kalau hafalin vocabullary yang jumlahnya bisa bikin kepala meledak’ kaya diserang ribuan bomb napalm…, ah…what the hell lah..yang penting mandi dulu trus sarapan , habis itu pilih – pilih program di office..” . bejopun bergegas masuk kamar mandi, sebelum anak – anak lain yang kost di tempatnya ‘fatherland atau panitia hari kiamat ( salah satu julukan terhadap pemilik kost di kampung inggris pare , seorang bapak bertubuh gempal dan selalu pasang ekspresi mringis menakutkan , bahkan kalau dipikir – pikir lebih sangar’an fatherland daripada tokoh Hulk di comic marvel ). Air terasa dingin, dan mulai mengguyur badan bejo.
   “ Wooiii…. Gantian nik adus cuukk..! ( oi..gantian kalau mandi teman ! ) , anak –anak yang merasa antri diluar seperti tak sabar menunggu bejo yang lebih duluan mandi sambil bersiul penuh kelega’an, “ Iyo…sik cuukk..! sing sabar.. it’s your bisnis.., salahe tangi gag gelem rodhok mruput…( iya…sebentar kawan.., itu urusan kalian.., salah sendiri gag mau bangun lebih awal..) “ jawab bejo dengan nada santai masih sambil bersiul lagu ‘ pagi yang indah sekali ‘ dari koes plus, tak peduli dengan keadaan anak –a nak yang di luar yang semakin tambah ‘Ngghrundel ( bergumam ) tidak karuan, lalu…sebuah kerikil melayang dan tepat mengenai pintu kamar mandi yang terbuat dari gembreng / seng “ Dhueeennggg …!!! “ suara yang bisa bikin orang jantungan bila mendengarnya dan membuat bejopun spontan ‘misuh – misuh ( mengumpat ) dengan irama yang agak manis didengar “ Diancuuukkk….asu…., iyo – iyo ..aku tak’ mentas ( hiaa… iya – iya…aku sudah selesai nih..) “ , anak –anak diluarpun tertawa geli melihat melihat tingkah bejo yang mendadak ‘gendandap’an ( tergesa – gesa ) sambil menenteng handuk yang masih basah, “ wis… ndhang adus – adus kono…, ojo mbulet ae koyok entut ( sudah… cepetan mandi sana.., jangan berputar – putar kaya’ kentut..)” ungkap bejo dengan irama nada di’ santai – santaikan , walau berani taruhan , dia pasti kesal karena kaget dengan suara pintu yang terbuat dari ‘gembreng tadi kena lemparan kerikil ulah teman – teman nya.
   Oke… oke…, kaya’ nya semuanya sudah bersiap – siap , bejo dan tiga teman nya yaitu : Big pa- pa yang berbody tambun ala santa claus yang cocok jadi judul lagunya band melodic punk asal jogjakarta ‘Endank Soekamti’ --- pejantan tambun, trus ivan kabayan anak dari cianjur yang nge- fans dengan artis korea super junior bahkan matanya yng sipit dan rambutnya yang disemir kuning menambah kesan komplit seperti artis korea, lalu ‘mister thinking ( karena sebelum ngomong selalu berpikir dengan sangat exstra , sehingga kalau ngomong kaya’ orang gagap ). Merekapun mencari sarapan nasi kuning di JL. Brawijaya yang mulai agak rame di penuhi anak – anak kost yang berlalu lalang naik sepeda onthel bekas bersama – sama , di waktu asik – asik nya sarapan pagi bersama tiga rekannya, bejo melihat keselatan jalan lewat si gilang perempuan kecil mungil teman sekelasnya di speaking 1, gilang adalah perempuan pendiam tapi dia menyenangi music dan band –band punkrock kaya : Ramones, Greenday, Rancid, NOFX, Rufio, Hi- Standard dll, kadang kalau berbicara iramanya pelan, tapi sedikit ‘klejingan ( konyol ) dan selalu mengikat rambutnya ke atas persis gelungan emak – emak pakai kebaya. Bejopun tidak meneruskan sarapan nya dan langsung membayar dengan uang pas di kasir, ketiga rekannya heran “ Arep nyang ndhi jo? ( mau kemana jo..? ) “ big – papa menanyai bejo “ sik… aku tak’ marani gilang dhisik…( sebentar.. aku mau menghampiri gilang dulu..) “ jawab bejo, “ engko nik wis mari mrene maneh ya.. ( nanti kalau sudah selesai kesini lagi ya..) “ ujar big – papa sambil mengunyah ‘ kerupuk urang yang belum habis di makannya.
   Setelah berlari, bejopun menghampiri gilang yang juga mau mengambil program, “ Lang… awakmu njupuk program opo..? ( lang..kamu ambil program apa ? ) “ bejopun bertanya kepada gilang sambil sesekali menendang batu – batu kecil yang menghadang jalan, “ aku dewe yo ijik bingung jo…, tapi aku kepingin njupuk ‘Job Interview …kethok’e menarik..( aku sendiri juga masih bingung jo.., tapi aku ingin ambil ‘ Job Interview .. kelihatannya program tersebut menarik ) “, gilang pun sambil melihat waktu di celulernya melangkah agak tergesa – gesa , “ Job Interview..? opo kui lang..? mosok menarik..? ( Job Interview..? Apaan tuh lang..? masa’ menarik..? ) “ bejopun penasaran dengan ucapan gilang mengenai program Job Interview. “ he’ eh, Job Interview kui enak pelajarane, engko kenek di gae ngelamar kerjo.., santai …santai.. pokok’e.. ( iya.. Job Interview itu enak pelajarannya, , nanti bisa di buat melamar pekerjaan , santai..santai.. pokoknya..) “ gilang pun dengan rasa percaya diri memberi sedikit illustrasi mengenai program Job Interview kepada bejo. Seperti memperoleh petunjuk dan jalan terang , bejo pun terus bertanya kepada gilang dengan antusias “ tenan to lang..? , mosok santai..? aku ra’ mudheng belas lo.. ( sungguh lang..? masak sih santai..? aku benar – benar tidak mengerti lo…)” , gilang pun berjalan berusaha meyakinkan si bejo, agar mau memilih program bernama ‘Job Interview tersebut “ Iyo..iyo.., wis to nik gak percoyo dijajal ae..( iya..iya.. , kalau tidak percaya di coba aja..) “ sahut gilang.
   Langkah kaki pun membelok diperkampungan, menurut cerita dari pinisepuh – pinisepuh asli kampung inggris, kampung tersebut dulu masih sepi’ mamring ( nyenyat ), belum ada yang namanya kost-kost an apalagi asrama di tempat tersebut, mayoritas penduduk ditempat bekerja sebagai petani disawah dan ladang, juga berdagang bumbon ( bumbu – bumbuan ) di Pasar Pamenang yang jaraknya masih sekitar satu kilo. Diselatan jalan masih terlihat sawah – sawah  menghampar dan menara masjid agung An – nur menyapa agak malu tertutup rindangnya kebun bambu, sehingga langkah kaki tersebut tak terasa sampai di kelas.
   Dengan langkah confident bejo dan gilang pun masuk kelas, Mr Tom mulai memberi pelajaran pagi itu, tepat pukul 07.00 WIB , sosoknya yang tidak terlalu tinggi namun berwibawa memberi kesan bahwa beliau adalah seorang yang disiplin sekaligus santai dalam mengajar “ O.k guys… let’s open our program with pray for God… the one and the only …. The Almighty for all ..”, suasana heningpun dimulai anak – anak yang mayoritas perempuan dan berjumlah tak lebih dari 12 anak tersebut mulai berdo’a menurut kepercaya’an masing – masing, tak terkecuali dengan bejo dan gilang, “ Finish…! “ Mr Tom memberi isyarat bahwa berdo’a selesai  dan mulai menyuruh anak – anak memberi Introduction for their self .
   Bejo dan gilangpun hanya bisa ‘plonga – plongo ( semacam ekspresi goblok mendadak ) , sebab melihat anak –anak yang berada di kelas Job Interview kemampuan speaking, pronounciation, grammar, dan vocabullary nya sudah berada di tingkat rata – rata, semuanya ngomong dengan speed kualitas speaking 4 dan bahkan speaking 5 , padahal mereka ( bejo dan gilang ) baru lulus dari final test speaking 1 kemaren, jadi kecepatan ngomong dan intonasi pronounciation masih dibawah layak, “ aduh…piye iki jo.., aku ndhredheg’ e…( aduh,,,gimana nih jo.., aku gemetar nih..) “ sahut gilang kepada bejo “ Ndhredheg piye tho lang..? ( gemetar gimana tho lang..? ), tanya bejo penasaran “ delok’en tho…kabeh wis podho lancar kabeh ngomong’e… ( kamu liat…semuanya udah sangat lancar ngomongnya..) “ jawab gilang kepada bejo yang masih tampak plonga – plongo, “ lha jaremu ndhik mau kelas’e santai..? awakmu wis tau tho melu program iki…( lha tadi katanya kelasnya santai..? kamu sudah pernah khan ikut program ini…? )” bejopun balik bertanya kepada gilang, dan gilangpun akhirnya menjawab dengan sedikit tertawa “ Ugung tau jo…awakmu mau tak apusi…( belum pernah jo…, kamu tadi tak’ bohongin…) “, bejopun mulai sembuh dari plonga – plongo nya “ Jangkrik…..asem awakmu lang.., ngene iki malih awak’e dewe goblok ndhadhak, tak’ anggit awakmu wis tau melu program iki… ( jangkrik…, asem kamu lang… kita jdai goblok’ mendadak nih, kirain kamu udah pernah ikut program ini…) “ dalam hatipun mereka berdua berharap , agar pelajaran hari ini cepat berlalu.
   Program pun selesai, mereka berdua hanya bisa tertawa dan berjanji untuk tidak masuk kelas tersebut ke esokan harinya, dan di ganti dengan program lain yang sesuai dengan kemampuan mereka saat itu. Dari jalan seberang big – papa , ivan kabayan dan mister thinking memanggil bejo dan gilang “ oi jo…, sido njupuk program opo awakmu.., iki mau arek – arek njupuk Speaking 2, Vocabullary 2, ambek Reading 1 ( hei jo… , jadi ambil program apa tadi? Ini tadi anak – anak ( ivan kabayan & mister thinking ) ambil program Speaking 2, Vocabullary 2 dan Reading 1 ..), bejopun hanya bisa menjawab dengan nada bangga sambil melirik ke arah si gilang “ Aku mau karo gilang bar njupuk program sing joss lan keren… yo po gag lang..? ( Aku tadi sama si gilang habis program yang joss dan keren … ya khan lang..? ) “ gilangpun mengangguk sambil tertawa, “program apa itu….critain dong….!!” , merekapun bersama – sama mencari warung terdekat sebelum pulang ke tempat kost.



                                  on August 1st 2012,  4.27 PM , sambil menunggu buka puasa  - Arifinman -






Dan tiba - tiba Mr. Punishment pun muncul ...

Dan tiba - tiba Mr. Punishment pun muncul ...

oleh Ahmad Arifin (Catatan) pada 6 Agustus 2012 pukul 14:08
                                  Dan tiba – tiba Mr. Punishment pun muncul …


     Di kampung Inggris ada sebuah peraturan yang harus dipatuhi di dalam sebuah Dormitory / Camp, yaitu sebuah Punishment atau denda, sebab di dalam dormitory setiap anak di wajibkan berbahasa inggris , terserah… sesuai dengan kemampuan si anak , kalau lupa dengan ‘ Vocabullary bisa membuka kamus mini atau bertanya kepada teman – teman nya dengan ungkapan “ How to say it… ( Gimana ngomongnya ..) “ atau “ What the mean of… ( Apa artinya ..? ) “ , bukan nya kejam…., peraturan tersebut di buat untuk mendisiplinkan anak – anak agar l ebih terlatih ngomongnya menggunakan bahasa inggris.
     Untuk Mr. Punishment ( seorang anak yg kebagian mengawasi ) setiap seminggu sekali ganti, Mr punishment ini berhak mencatat di papan pengumuman ‘ Siapa saja yang tidak ngomong inggris di dormitory, biasanya dengan mengenakan denda Rp. 500,- per kalimat dan Start nya dimulai jam 7 pagi sampai dengan jam 7 malam . tapi…. Jangan men’ judge Mr. punishment itu orang yang kejam lo…., setiap uang yang telah di kumpulkan nantinya di buat pesta – pesta kecil di akhir pekan seperti : berenang dan mengunjungi Candi Surowono, mengunjungi Monumen Mastrip dan Ringin budho, fun bike bersama – sama di candi Tegowangi, berbelanja bahan makanan di Pasar Pamenang Dsb.
     Naaahhh… disini ada kejadian yang membuat tersenyum , kejadiannya pada waktu anak – anak habis berenang di Surowono, setibanya di Dormitory suasana lumayan hening, mungkin hanya suara buah mangga yang berjatuhan di balik tembok  dan ‘ fatherland ( sebutan untuk bapak kost ) yang lagi membetulkan sepeda dengan raut ‘ menakutkan persis Zombie di serial Walking Dead biarpun sama anak – anak disapa dengan ungkapan “ Monggo pak…” atau “ Mari pak….” Sampai “ Exuse me pak…. “ , si fatherland ini tetap mempertahankan raut muka menakutkan seperti Zombie kelaparan.
     What the hell ‘ lah dengan ‘ Fatherland, anak – anak pun bersantai ria , leyeh – leyeh sambil bergurau, mereka pun tak sadar bahwa mereka telah masuk di dalam dormitory  yang ada peringatan “ English Area…, not for Animal Leanguage…! “, merekapun tak sadar dengan yang di omongkan barusan, bahwa mereka tidak ngomong ‘Inggris sesuai peraturan yang telah di tetapkan, salah satu anakpun menyeletuk ringan “ Eh…. Kamu tidak ngomong Inggris …? “ yang ditanyapun menjawab “ Uuuppss… , lupa aku … tapi biarlah…toh Mr punishment khan lagi tidak ada di tempat…. , yang penting kita sekarang main kartu bersama….” . naaahh… di saat asyik dan santai santai nya bergurau dan ‘ merasa bebas dari ‘ ngomong inggris, tiba – tiba dari arah belakang  tepatnya di pintu WC keluar Mr. Punishment yang dari tadi ternyata ‘ Sakit perut dan menghitung sambil menghafal ‘ Siapa saja tadi yang tidak ‘ Ngomong dengan menggunakan ‘Bahasa Inggris “ What
u’re say…., c’mon I’m ready to give a Punishment for you Guys…. ( apa kalian bilang…? Ayolah… aku selalu siap kok memberi denda kepada kalian semua kawan… ) “, sambil masih menahan perutnya yang sakit ‘ Mr punishment pun dengan sedikit tersenyum ‘ mencatat siapa saja tadi yang ngomong tidak menggunakan ‘bahasa inggris dipapan.
     “ Oh…. Shit… it’s a Suddenly attack man…! “ mungkin itu yang hanya di ungkapkan oleh anak – anak yang lagi tidak meng’ indahkan peraturan dormitory yang berbunyi “ English Area…., not for Animal Leanguage… “ pada waktu itu.









Misteri bapak berwajah buruk

Misteri bapak berwajah buruk

oleh Ahmad Arifin (Catatan) pada 9 Agustus 2012 pukul 22:22
          Anda siapa pak …??   ( Misteri bapak berwajah buruk ..)


   Sore itu cuaca lumayan bikin badan ‘ kemriang, gimana tidak.. siangnya panas dan angin berhembus terus – menerus sambil membawa debu – debu beterbangan, menginjak malam cuaca berganti menjadi dingin , maklumlah bulan itu antara bulan juli menuju ke bulan Agustus yg kalau dalam Tradisi jawa bulan tersebut dinamakan ‘ Randu Ngembang, musimnya pohon – pohon randu yang mulai berbunga, bahkan bila diwaktu fajar ayam biasanya aktif berkokok , tetapi tidak dengan bulan ini.. kebanyakan kaki ayam pasti diangkat satu menandakan cuaca yang begitu dingin menusuk tulang.
   Paling  hanya pedagang nasi goreng keliling dan ( kadang bakso juga ) yang bisa diandalkan buat mengisi perut kosong di waktu malam, dan itupun harus aku cari mengelilingi JL.Brawijaya di waktu malam dengan mengendarai onthel sewaan . tak banyak memang jam segitu ( kira – kira pukul . 22.16 wib ) orang – orang yang berseliweran di kampung inggris, mereka lebih asyik leyeh – leyeh di teras rumah sambil minum kopi hangat daripada keluar, tak terkecuali dengan anak kost .. maklum peraturan kost yang berlaku hanya boleh keluar sampai jam 21.00 wib, peraturan tersebut di peruntukkan oleh anak perempuan yang tinggal di kampung inggris.
   “ Mas… nasi goreng mawut ya.., sayurnya mentah aja…” tanyaku kepada mas penjual nasi goreng keliling , “ lho.., kok sayurnya mentah mas? Apa enak nanti..? “ jawab mas penjual yang heran dengan seleraku yang kalau dipikir – pikir persis kambing kebun dan tidak seperti kebanyakan anak – anak pada umumnya, memang aku dari dulu menyukai sayur mayur yang dimasak mentah, bukannya aku ‘omnivora, cuman aku pernah liat di acara  TV Champion Jepang , orang yang suka dengan sayur ‘ m entah konon bisa membuat badan terlihat tampak segar dan tidak loyo ( sambil membayangkan kaya’ popeye the sailorman ) entah benar atau tidak aku suka gitu aja.
   Kuhabiskan dengan lahap nasi goreng tersebut, hal itu adalah sebagai bentuk wujud balas dendamku , karena dari tadi siang aku tidak makan nasi sama sekali, daritadi aku diajak temen – temen berenang di surowono dan cuman makan bakso saja. “ berapa mas…? “ tanyaku kepada penjual nasi goreng yang kelihatannya mulai mengantuk tersebut “ Lima ribu mas…” , akupun membayarnya . emang bicara soal harga makanan di kampung inggris cukup ekonomis alias tidak mahal, pokoknya cocok dengan uang saku anak kost, kebanyakan satu porsi ditambah the cuman Rp. 3500,- sampai Rp 4000,- mahal – mahalnya ya itu tadi.. Rp 5.000,-  bisa membuat perut anak kost penuh.
   Sesampainya di tempat kost, teman – teman sudah pada tidur semua… hanya temanku si ‘ Derta aja yang masih didepan TV  sedang menonton Serial Animal Planet dan terkadang di ganti dengan ‘Don’t tell my mother, aku pun ikut nimbrung dan nonton bersama dia “ lho…kok belum selesai der… what’s time is it..? “ tanyaku kepada Derta , “ iya nih… it’s awesome chanel…seru…, tadi mulainya mundur setengah jam ..” jawab si Derta yang matanya tidak meloloskan barang sedikitpun , “ Dari mana kamu Guys…? “ Derta menanyaiku sambil matanya tetep tidak beralih ke pesawat TV. “ Beli nasi goreng…di depan warnet.., laper dari tadi blum kemasukan nasi..” jawabku, “ ooo… ga’ ajak – ajak …, aku tadi juga laper .., tapi sekarang sudah gag lagi…” Derta pun berhenti sejenak dan merokok satu batang sambil menirukan gaya Al capone di film- film mafia italy, aku pun cuman menggumam “ huuuffftt… sempat – sempatnya ..”. diambilnya Remote TV bermaksud mematikan pesawat TV yang dari tadi belum mati tersebut, akupun mencegahnya “ Gak usah dimatikan der…, ntar tak matikan sendiri…aku mau liat TV dulu..” , lalu kualihkan chanel TV mencari acara ringan – ringan aja , seperti ‘Hungarian Circus ‘ terkadang kalau ada jeda komersial kuganti serial ‘Mr Bean sambil menyandarkan tubuhku . “ aku tak’ tidur dulu ya boy…” kata derta yang keliatannya juga sudah mulai mengantuk tingkat dewa.
   Tinggal aku sendirian di teras luar, emang TV nya tidak di taruh di dalam di tempatnya bapak kost, tetapi ditaruh di teras luar, agar anak – anak kalau menonton bisa bersama – sama . tempat kostku pun termasuk tempat kost yang tidak banyak di ketahui anak – anak kost laen, letaknya didalam dekat dengan kamar mandi lama, didalam bak kamar mandi ada 2 ekor ikan tombro , dikasih anak – anak pada waktu jalan – jalan ke candi surowono agar bak mandi tersebut bebas dari jentik- jentik nyamuk, sementara di depan kamar mandi ada ruangan terbuka, buat menjemur pakaian dan dibalik pagar terlihat kebun yang banyak di tumbuhi pohon mangga yang batang – batang nya berlumut dan menjulang ke atas seperti tangan – tangan yang sedang nmencengkeram langit, akupun menonton TV tetapi juga sedikit mengantuk, liat acara tapi tidak menyimak filmnya, dan akhirnya kumatikan saja TV tersebut.
   Malam semakin larut, buah mangga di kebun balik pagar berjatuhan sesekali menimbulkan suara “ Krosak…!! “ , paling – paling buah yang sudah matang habis di makan ‘ Codot / kelelawar kecil . “ wah… lumayan.., bisa buat makan siang nanti…” pikirku. Keadaan pun semakin hening dan sunyi… semuanya terdengar begitu jelas.., suara Syiir dengan tembang jawa di langgar terdekat, bapak kost yang sedang batuk, temanku Big – papa yang tambun sedang mendengkur, Mr Andy yang kalau di kelas sangat rajin ‘ Mengigau sambil menghafal vocabullary dan suara burung – burung ‘ Wuk yang biasa berkeliaran di tengah malam.
   Aku berdiri dan membasuh muka, tangan dan kakiku dengan ber’ wudhlu, ingin rasanya aku ‘ sembahyang mengheningkan cipta di malam sebening ini pikirku, akupun melaksanakannya dan selesai, lalu akupun duduk ‘semeleh ( Relax ) , merasakan dan bersyukur kepada Sang Pencipta dan ditengah – tengah khusyu’ku…diantara alam sadar dan tidak sadar, terjaga tidak.. tidurpun juga tidak, mungkin kalau kata‘orang – orang tua di Jawa namanya ‘ Gung liwang liwung’ , tiba – tiba … lap ! disebelahku duduk ‘seorang bapak , mengenakan sarung, memakai kopyah ( songkok ) hitam dan mempunyai wajah yang buruk , tetapi tidak menakutkan… ya cuman jelek.., ga ada mukannya yang hancur dan badan yang sedikit membungkuk, dia pun seolah tersenyum dan mengajakku bersalaman tangan, anehnya…. Akupun tidak merasa takut, di dalam batinku pun seakan bertanya “ Ngapunten… panjenengan sinten nggih..? ( Anda siapa pak..? ) “ , tapi si bapak cuman tersenyum dan perlahan – lahan l enyap dari pandangan.
   Akupun setengah sadar… , tapi anehnya…lagi – lagi aku tidak merasa sedikitpun takut, malah tubuhku serasa ringan dan perasaanku sangat bahagia What happened …??? Ada apakah ini..?? . keesokan paginya pada waktu ikut program Speaking, akupun menceritakan pengalamanku kepada teman – temanku, merekapun hanya mengangkat alis sambil mengernyitkan dahi “ Masa sih…, pukul berapa ?? trus reaksimu gimana?? Apa aja yang aneh pada waktu itu…?? “ lainnya juga penasaran berusaha mengorek ceritaku dengan berkata “ lha terus akhirnya gimana…?? “ , mungkin diantara semua anak ada yang menganggap ceritaku hanya ‘ omong kosong belaka alias ‘ Just talk around bullshit..’, terserahlah… khan mereka tidak mengalami seperti aku pada malam itu, tetapi tidak dengan pengalamanku ‘ sehabis mencari nasi goreng pada waktu itu, dan sampai saat inipun ‘ penampakan seorang bapak yang mengajakku bersalaman tengah malam itu banyak ‘ memberi hikmah dalam hidupku, bahwa ada sisi lain di dunia ini yang selalu bersama kita, cuman kita tidak menyadarinya dan bahwa kita hidup di dunia ini tidaklah sendirian.



          On Ramadhan , August 05 2012 .
           Before imsya’ 03.49


               Arifinman



SEPUR TRUTUK DI STASIUN PARE

SEPUR TRUTUK DI STASIUN PARE

oleh Ahmad Arifin (Catatan) pada 11 Oktober 2012 pukul 14:17
SEPUR TRUTUK DI STASIUN PARE

         Dulu di sebelah selatan Polres Bhayangkara dan bekas bangunan Gedung Bioskop Sentral terdapat satu-satunya stasiun kereta yang menghubungkan Jalur Kediri dan Jombang, suasana pada waktu itu sangat ramai. Para penumpang silih berganti naik turun stasiun dan disebelah selatannya lagi terdapat bangunan gerbong untuk menaruh Kepala Sepur Trutuk dan lori-lori yang biasanya digunakan untuk mengangkut tebu, beras dan gula. Selain itu disebelah kanannya lagi ada Loco putar dan disebelah kiri gerbong terdapat sumur tua.
         Bila penunggu datang lebih awal, bisa jalan-jalan di perumahan PJKA yang terletak di sebelah selatan (sekarang kampung itu bernama kampung kong’an). Di sepanjang jalan perumahan itu banyak sekali ditumbuhi pohon-pohon flamboyant yang bunga-bunganya berwarna merah, tetapi kebanyakan orang-orang yang ada di kota Pare menyebutnya dengan nama “Pohon Ecek-Ecek”. Perumahan disitu struktur bangunannya khas made in Holland. Cuman sayang tidak ada Windmillnya alias “kincir angin”nya. Naah… bila kita bertanya kepada penduduk setempat mengenai bentuk bangunan perumahan itu, biasanya akan selalu dijawab “Inggih..Loji puniko rumiyin bangunanipun “Walanda ( iya mas.. bangunan loji itu dulunya yg buat orang belanda ) ”. Bangunan loji-loji itu sampai saat ini masih dihuni oleh orang-orang kampung Kong’an dan disitu sekarang berdiri sebuah studio music yang sering dibuat latihan Band-band-an bernama “Dens Studio”.
         Dari stasiun biasanya kereta yang akan menuju Jombang bergerak ke Timur kurang lebih 200 m ada pos jaga dan terus melewati depan Koramil berlangsung melewati sekitar Ringin Budho dan dilanjutkan ke utara melewati Rumah Sakit HVA terus ke arah Jombang.  “Jess…ejess…ejess…tuit…tuit…” begitu bunyinya Sepur Trutuk pada waktu itu.
         Kurang lebih di akhir tahun 1975 stasiun kota Pare sudah berakhir, dan disekitar Perum PJKA sekarang dibangun Areal Pertokoan PJKA yang menghadap ke Utara, dan dibalik (belakang) areal pertokoan itu ada Pujasera (Pusat Jajan Serba Ada) dan Pasar Sore di waktu malam, sedangkan areal perkebunan depan loji-loji sekarang berubah menjadi bangunan perumahan dan diwaktu siang banyak pedagang burung dan barang-barang bekas.









Ketika keluar dari warung …. ( Sebuah Roman Picisan di pagi hari )

Ketika keluar dari warung …. ( Sebuah Roman Picisan di pagi hari )

oleh Ahmad Arifin (Catatan) pada 11 Desember 2012 pukul 12:40
           Ketika keluar dari warung …. ( Sebuah Roman Picisan di pagi hari )


     Fajar tampak dingin , kabut lumayan tebal maklum k emarin turun hujan dengan sangat deras, Kusworo membesarkan volume tape nya dan bernyanyi ‘ Twist and shout dari kelompok The Beatles sambil menata barang daganganya di Pasar Pamenang Pare. Dia harus berangkat sehabis shubuh , karena dia sadar harus mengumpulkan uang untuk mengambil barang di tempatnya juragan yang datang nanti siang, dia sadar barang dagangan nya tidak sebanyak teman – teman nya “ Nik aku jor- joran barang mesti aku kalah karo liyane…, amergo modalku mung sithik… kono modal’e gedhe .. dadi aku kudu ngalah’I budhal isuk,  ben ‘ndhang oleh rejeki…( kalau aku bersaing barang pasti aku akan kalah dengan yang lain nya…, sebab modal ku cuman sedikit… sementara mereka khan modalnya besar… , jadi aku harus mengalah untuk bangun pagi biar cepat dapat rejeki..). “ gumamnya dalam hati, ia sangat berharap rejeki hari ini akan lebih baik daripada kemarin dan lusa, sebenarnya kemaren kalau tidak hujan dagangannya laris manis tanjung kimpul…, tapi berhubung bulan Desember yang kata orang jawa ‘Deres – deres nya sumber ( deras – derasnya air yang mengalir )  di kota Pare hujan mengguyur dengan derasnya seperti judul lagunya grup music th 60an the cascades – rhythm of the rain, ia harus tutup pada waktu siang , maklum orang – orang yang berbelanja lebih sibuk dengan cucian nya yang tak kunjung kering daripada berbelanja ke pasar yang mulai tutup jam 16.30 tersebut.
     “ Oalah kus..kus.., budhal mu iki lho jam piro? Kok yahmene toto – toto daganganmu wis rampung ..? ( wooww… kusworo…, kamu ini berangkatnya jam berapa sih…kok tatanan daganganmu sudah rapi semua nya..)” , tanya mas Slamet dengan ekspresi setengah meledek’ kusworo agar pemuda tersebut bisa lenggang sedikit “ Kudune awakmu iki ora usah budhal isuk – isuk…, sing mbok golek’ne I yo sopo..? hehe… koyok wis ndhuwe anak 2 ae butuhmu …( seharusnya kamu ini tidak usah berangkat pagi – pagi seperti ini.., yang kamu carikan itu siapa sih… hehe kaya orang yang sudah mempunyai anak 2 aja kebutuhanmu itu…) lanjut mas Slamet sambil menenteng sepeda motor 70 nya yang terkadang berbunyi ‘ tek etek etek etek.., “ alah mas Slamet’ i …, ndhang bukak ‘ kono lo… ndhik mau enek langgananmu sing atene nggolek wajan ambek sutil.., trus aku nunut tulung karo di awasi daganganku ini…hehe, aku tak ‘sarapan dhisik , engko baru genti sampeyan sing sarapan…. ( ah… mas Slamet ini…, sana kiosnya cepet di buka , tadi ada pelangganmu yang cari wajan sama sutil tuh…, trus aku numpang .. tolong daganganku di awasin.., aku mau sarapan dulu.. nanti baru ganti sampeyan yang sarapan..) “, kusworo pun sambil menata dan merapikan dagangan sabuk dan topinya berusaha membalikkan pertanyaan yang di lontarkan kepada mas slamet, “ Alah… nik atene sarapan ‘ i ndhang rono tho…., tak’ jagakne dasaranmu… koyok karo sopo ae kus..kus .., lagian saiki khan isih jam 5 seprapat .., engko rame – ramene pasar paling jam 7 an , wis… ndhang golek sarapan kono… ( ah… kalau mau sarapan cepat sana.., nanti pasti ku jaga khan kiosmu ini…, kaya seperti  siapa aja kus…kus…kamu ini.., lagian sekarang khan masih pukul 5 lebih seperempat, nanti ramai ramai nya pasar paling sekitar pukul 7 an… ya udah.., cepat cari sarapan sana..) “ sahut mas slamet sambil duduk ringan dan merokok sebatang , “ Suwun mas met ya…, sampeyan memang asistenku sing paling joss nik pas wayah isuk.., engko di gawak’ne peyek opo teh anget nik aku mari teko warung..? ( Trims mas met ya…, sampeyan memang asistenku yang  paling joss pada waktu pagi.., nanti kalau aku pulang dari warung di bawakan apa nih.. peyek atau teh anget  ? ) “ jawab kusworo sambil tertawa “ ooo… dobol tenan cah gemblung iki.. !! “ timpal mas slamet menyahuti , walaupun asap rokok mengepul di mulutnya.
     Langganan warung kusworo terletak di samping bakul ketela di stand sayur sebelah barat, keadaan pada waktu fajar itu sudah hiruk pikuk dengan rutinitas, maklum Pasar Pamenang Pare adalah salah satu pasar Traditional  paling besar di kota kecil yang mendapat julukan “ Pare = Papan Panglerenan ( Pare = tempat beristirahat ) “, pasar yang mulai aktif pada pukul 1.30 dini hari ini pernah mengalami dua kali kebakaran hebat di tahun 1987 dan tahun 1989. Pedagangnya sudah emak – emak berumur sekitar 60 tahunan , sama seperti kusworo pedagangnya selalu berangkat di Pasar Pamenang sehabis sembahyang shubuh di waktu Sola’ sola ( sebutan orang kampung untuk Syiiran / puji2an menyebut asma Allah dengan menggunakan irama dan cengkok bahasa jawa ) berkumandang di langgar – langgar  atau masjid di perkampungan. Mak’e ( para pembeli selalu memanggil pedagang nasi pecel ini dengan sebutan demikian ) yang asli orang Toeloeng Redjo ini memang ‘ enthes, grapyak dan ramah beliau selalu cekatan melayani pembeli yang mampir di warungnya yang agak gelap di waktu pagi terkena kepulan asap, dan hanya 2 lubang sebesar batu bata yang menyinari warung nya di pagi hari. Mak’e pun pandai ber basa – basi di tengah kesibukanya, biasanya ia selalu menyapa para pembeli yang mampir di warungnya dengan ungkapan misalnya “ Lho… tumben.., suwi ra tau mampir ndhuk..? Soto’ne entek’ e.., kari sego pecel lawuh kerupuk… ora opo – opo yo..? ( lho… tumben …, lama gag pernah mampir ? sotonya habis nih… tinggal nasi pecel lauk kerupuk nih? Gak pa pa ya..? ), para pembeli di warungpun hanya bisa tersenyum.. dalam hatinya mungkin bertanya tanya .. sejak kapan mak’e ini pernah jualan soto? Ah… ada – ada saja mak’e ini.., sebuah basa basi hangat di pagi hari.
     Tak terkecuali dengan Kusworo, dia juga selalu tersenyum ketika mak’e ber basa – basi melayani pembeli, baginya mak’e adalah seorang yang tidak gampang menyerah dalam b ekerja… , memang kalau di pikir pikir penjual itu harus aktif berbicara, itu memang sebuah kewajiban atau semacam ikhtiar seorang pedagang agar dagangannya lekas laku, emang sih.. ada yang men’ judge dan mencemo’oh kalau pedagang itu ‘lambene dobel ( mulutnya dobel ) , tapi itu khan hanya anggapan orang tersebut yang tidak berprofesi sebagai pedagang? Coba kalau misalnya dia disuruh berdagang , aku yakin ia pun pasti secara reflek mengikuti alur pedagang tersebut .. gumam kusworo yang mulai melahap nasi pecelnya. Warung mak’e ini memang jenis warung ekonomis buat kusworo dan orang – orang yang duitnya pas – pasan.., satu porsi cukup merogoh kocek Rp. 900,- untuk sepiring nasi pecel dengan lauk satu tempe, dua tahu dan dua kerupuk kecil, dan tambah lagi Rp 100,-  untuk segelas the yang tidak terlalu manis, padahal umumnya warung – warung di sekitarnya m enjual sepiring nasi dan segelas tehnya di bandrol dengan harga Rp 1400,- tak ayal warung’e mak’e selalu menjadi persinggahan para pedagang ethek dan orang – orang yang berbelanja pagi, dan mulai tutup di bawah jam setengah 11 siang.
     Setelah merasa kenyang , kusworo membayar nasinya dan tak lupa membungkus buat mas Slamet yang menunggui dagangannya sedari tadi, di saat keluar dari warung dan melangkah .. langkah kaki kusworo tidak sengaja tersandung ketela ketela yang berjatuhan sehabis diangkat kuli – kuli pasar, pada saat tergelincir ia menubruk seorang anak berpostur kecil , di pandangnya anak itu yang juga terkejut sambil merapikan barang belanjaan yang tumpah ruah, reflek kusworopun membantu anak yang ternyata seorang gadis kecil berwajah melankolis dan imut itu “ Maaf… aku tidak sengaja.. “ sahut kusworo lirih, “ Gak papa mas…, aku tadi aja yang jalannya tergesa – gesa  ..” balas gadis kecil tersebut sambil m embersihkan debu – debu yang melekat di baju nya. “ Tapi… blonjone sampeyan malih korat – karit, tak’ gantine sego sing kutah iki mau… ayuk mampir ndhik warung dhisik… ( tapi… barang belanjaan kamu jadi tumpah, aku ganti nasi yang tumpah tadi… ayuk ikut aku mampir di warung dulu..) “ kusworopun merasa bersalah terhadap anak tersebut , karena menumpahkan barang b elanjaan gadis kecil tersebut , “ Ora usah mas…, ora opo opo kok…( ndak usah mas… gak papa kok.. ) “ , gadis kecil tersebut rupanya agak malu malu karena orang – orang di sekitar yang berlalu lalang mulai melihat kejadian tersebut pagi itu. “ Ayolah… dik.., ora kepenak aku ngene iki…( ayolah dik .. aku jadi tidak enak nih…)” ajak kusworo agar si gadis yang berperawakan kecil itu mau.
     Dengan perjuangan dan penjelasan yang gigih.., akhirnya si gadis pun mau juga, sambil minum the hangat di warung’e mak’e , kusworopun mengajak ngobrol ngalor – ngidul dengan gadis kecil itu, dan obrolan pun berlanjut ke arah perkenalan sambil menikmati alunan music Sheila on 7 – kisah klassik di masa depan yang mengalun lewat radio baterrei di warung itu. Di antara obrolan yang m enarik bagi kusworo saat itu adalah ia baru mengetahui kalau gadis kecil tersebut juga b ekerja di Pasar Pamenang, “ Oya…? Lha sampeyan melu nggone sopo ? kok gag tau eruh aku..? ( oya..? lha sampeyan ikut di tempatnya siapa? Kok ngga pernah tau aku..? ) “ tanya kusworo ,” Aku melu nggone mbak tutik mas…, ndhik stand pakaian, aku yo ngerti kok nik’ sampeyan dodolan ‘ sabuk , topi dompet ambek kaos kaki …( Aku ikut di tempatnya mbak tutik mas.., di stand pakaian .. aku juga tau kok kalau sampeyan jualan ‘sabuk, topi, dompet sama kaos kaki.. ) “ ujar gadis kecil tersebut. Percakapan itu adalah satu diantara sekian banyak percakapan antara kusworo dan Gadis yang bernama’ Arum tersebut, karena di kemudian hari keduanya mulai menjalin hubungan yang lebih di katakan sebagai teman biasa.
     Mas slametpun bergumam, kok kusworo lama banget membeli sarapan, padahal biasanya cuman sekitar 15 menit lama- lamanya 20 menitan, tak terasa ia pun m embakar rokoknya lagi, “ Suwi ngenteni aku mas met…( lama menanti aku mas met..?) “ tiba – tiba kusworo muncul dengan muka sedikit senyum membawakan sebungkus nasi pecel dan the anget di bungkus plastic buat mas slamet. “ Ndhengaren suwi to kus….( tumben lama kus..) “ jawab mas slamet sambil mengeluarkan uang di dompetnya untuk mengganti nasi bungkus yang telah di beli kusworo “ Piro iki kabeh….( berapa semuanya..) “  tanya mas slamet  , “ alah….santai ae lo mas met…, koyok  karo sopo ae…, ora usah di bayar.. iki mau aku oleh rejeki kok…( ah…santai aja mas met.., kaya seperti siapa aja nih…, ngga’ usah di bayar ini tadi aku dapat rejeki kok ) “ , sahut kusworo santai “ Rejeki opo ? rejeki mbahmu a…? tumben.. trus nyapo awakmu malih kethok rodhok semangat ngunu, m esti enek opo – opo kui…hayyyoooo…. , rodhok isin arek’e …( rejeki apa? Rejeki dari mbahmu ya?...tumben , terus kenapa kamu jadi keliatan agak b ersemangat begitu? Pasti ada apa apa nya nih….hayyyyoooo…., agak malu anak ini…) “ Tanya mas slamet yang mulai menyelidik perubahan sikap dan wajah kusworo yang tampak bahagia hari itu, tetapi mungkin mas slamet hanya bisa menebak , tidak demikian dengan kusworo yang mengetahui ‘ rejeki ‘ perjumpaan dengan gadis kecil bernama ‘Arum , dan itulah yang membuat kusworo merasa bahagia, bekerjapun jadi lancar dalam hatipun kusworo berucap syukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan rejeki di waktu pagi “ Duh …Gusti…., matur suwun panjenengan sampun paring rejeki ing wekdal enjing sak’ meniko, Matur suwun njenengan sampun paring seger kewarasan lan karahayuan wonten enjing niki .. ( Ya Tuhan…. Terima kasih engkau telah memberi rejeki di waktu pagi ini, Terima kasih Engkau sudah memberi kesehatan dan kesejahteraan di waktu pagi ini ) .”  suara tape kusworopun tetap mengalunkan lagunya The Beatles.


     0n August 3rd 2012 , Ramadhan mounth before imsya’
               Arifinman






A short stories about Pendhem keris

A short stories about Pendhem keris

oleh Ahmad Arifin (Catatan) pada 30 Desember 2012 pukul 16:52
Pendhem Keris (Wis Njaluk… ngarani )

         Pada suatu ketika di dalam Pasar Baroe Pare ada seorang “manula yang sering dipanggil dengan sebutan “pendhem keris”. Orang tua yang sudah berumur itu sering minta uang para pengunjung Pasar Baroe Pare diwaktu pagi sampai siang hari. Dinamakan dengan sebutan “Pendhem Keris” karena selalu digoda oleh orang-orang Pasar dengan teriakan “pendhem…!” dan selalu membawa sebuah keris ‘tumpul untuk menakut-nakuti orang-orang pasar yang sebetulnya ‘tidak takut, keris tersebut selalu dipegang ditangan kanannya sambil sesekali diacung-acungkan keatas.
         Nama aslinya “Gisan” entah tinggal dimana yang jelas bila pada waktu pulang dari Pasar Baroe Pare selalu naik becak menuju ke arah utara perempatan Pancaran, Pendhem Keris sering meminta uang kepada para pengunjung yang berbelanja di Pasar Baroe Pare, dia juga terkadang terlihat bergandengan dengan wanita yang juga sama-sama meminta.
         Bila meminta uang Pendhem Keris selalu menentukan jumlah uang yang diminta “ndhang.., njaluk 1000,- ae tak nggo tuku wedhang ning warung kono lo…( minta seribu ya…, buat beli kopi di warung sebelah sana lho..)” Sapa pendhem keris kepada pengunjung yang kebanyakan perempuan, tatkala ibu-ibu yg dimintai uang memberi uang receh Rp. 100,- pendhem keris selalu menolak dengan ungkapan yang bergumam “emooh aku…, gak iso dingge tuku wedhang, duit ngono kuwi. Nggonku enek sak slorok’an ..!!( gag mau aku…, gag bias buat beli kopi.., uang begituan ditempatku ada selaci tuh..!!) ” Sang ibu yang memberi uang pun bingung, dalam hati bergumam “Dikek’I kok muring-muring, wis njaluk… ngarani..( diberi kok marah2…, sudah dikasih..eh nentukan harga pula..)”, tetapi bila yang diminta uang memberi sesuai ketentuannya (Rp. 1000,-) pendhem keris selalu berucap “Suwun…suwun… tak dongakne rejekine ambyor koyok linthang ceblok…( terima kasih…2x, saya doakan rejekinya jatuh seperti bintang terang…)” sampai berkali-kali sehingga sang pemberi pun tersipu malu sambil berucap”inggih…inggih…( iya..iya..)”
         Orang-orang yang berdagang atau yang berjaga parkir sepeda bila melihat “pendhem keris” yang sedang meminta terkadang “menggoda” dengan meneriaki bersama-sama “Ayo… dipendhem ae…( ayo..dikubur aja orang itu..)” ada juga yang berteriak “gak usah dikek’I buk…ngapusi kui (tidak usah dikasih uang bu.., pendhem bohong..…)” Pendhem keris yang merasa kesal di olok-olok langsung menyahuti orang-orang dengan ungkapan “Anggitmu larahan piye… dipendhem…( kamu kira kotoran ya aku.. kok kalian bilang begitu,,)” sambil memperagakan aksi silatnya dan beratraksi dengan posisi tangan dibawah dan kaki di atas, orang-orang kembali berteriak menyorak’i “hiya..hiya…” jadilah para pengunjang pasar Baroe Pare mendapat sebuah hiburan gratis di pagi hari.
         Sesudah ber’atraksi dan menghibur pengunjung pasar, Pendhem keris pun sambil tersenyum biarpun agak kesal habis di “gojlog’i orang-orang, dia pun pamit kepada semuanya. “Sik ya… tak mulih dhisik.., nggatek’ne awakmu kabeh ora enek entek’e engko…( udah ya…, tak pulang duluan.., mikirin kalian semua tidak ada habisnya tau..)” sambil melangkah menuju pintu gerbang sebelah timur dan pulang dengan naik becak sampai di tempatnya.


20,8,2012  Arifinman